Kamis, 03 Agustus 2017

Mengapa Lamaran Pekerjaan Selalu Ditolak?

Kenapa ya lamaran saya ga pernah diterima? Saya sudah kirim berkas lengkap, sudah kirim ke alamatnya kok, tapi ga pernah ditelfon untuk interview? Apa berkas saya ga dibaca? Atau ga nyampe?

Selamat pagi!
Halo teman-teman, pernah ga sih bertanya-tanya, kenapa ya lamaran saya ga pernah diterima? Saya sudah kirim berkas lengkap, sudah kirim ke alamatnya kok, tapi ga pernah ditelfon untuk interview? Apa berkas saya ga dibaca? Atau ga nyampe?
Hari ini saya akan sharing pengalaman tentang kesalahan yang sering terjadi dalam melengkapi berkas lamaran pekerjaan dan sedikit mengulas bagaimana membuat lamaran pekerjaan yang baik. Sebenarnya, saya belum menjadi pakar dalam bidang HR, dan belum lama menggeluti dunia rekrutmen, namun dengan pengalaman saya menerima dan menyeleksi puluhan bahkan (bahkan mungkin hingga) ratusan berkas lamaran para jobseekers, saya jadi menemukan pola mengenai poin-poin yang penting dalam sebuah lamaran pekerjaan.

MEMAHAMI ISI LOWONGAN PEKERJAAN

Sebelum masuk ke pembahasan, penting kiranya anda benar-benar memahami isi lowongan pekerjaan yang akan dilamar. Apa saja? Tentu saja posisi yang dicari, apakah sesuai minat dan pengalaman kerja anda sebelumnya?; apa sajakah syarat kualifikasinya, apakah anda masuk dalam kualifikasi yang dibutuhkan, baik dari segi jenis kelamin, kesehatan, pendidikan, usia, dsb; perusahaan apakah yang akan anda masuki, anda bisa googling informasi perusahaan tersebut, perusahaan bidang apa, apakah tempatnya bisa anda jangkau, perhitungkan juga akomodasinya.
Nah jika sudah dirasa cocok semuanya, maka saatnya mempersiapkan berkas lamaran selengkap dan sesempurna mungkin.

TANGGAL SURAT

Apa aja biasanya berkas yang dilengkapi dalam suatu lamaran pekerjaan? Yak, tentunya yang pertama adalah surat lamaran. Jujur, ketika menyeleksi lamaran, baik berkas fisik maupun dari email, saya melihat keseriusan pelamar dari surat lamarannya. Pertama, tanggal surat. Ini penting, loh. Rasanya gimana gitu kalau di awal membaca surat lamaran yang tanggalnya sudah lewat satu bulan lalu, atau ditulisnya tahun 2016, sedangkan kita buka lowongan tahun 2017, hebat juga ya surat lamaran bisa datang dari masa lalu?! Hehehe. Nah, hanya dari tanggal surat saja, saya sudah langsung bisa menilai, serius atau tidaknya pelamar. Kalau tanggalnya tidak logis atau terlalu lampau, berarti dia tidak teliti atau perhatian terhadap pekerjaannya, dan lamaran tersebut akhirnya ditolak.

NAMA PERUSAHAAN YANG DITUJU

Selain tanggal surat, poin kedua adalah tidak menuliskan nama perusahaan yang dituju. Saya kadang menemukan surat lamaran seperti ini:

Kepada Yth.
…………………………………. (tidak diisi)

di tempat

atau

Kepada Yth.
(menuliskan nama perusahaan lain)

di tempat

atau ada juga yang menulis nama perusahaannya benar, namun di badan surat tertulis:

Besar harapan saya dapat bekerja di Café Bapak/Ibu.

What? Café? Perusahaan ini kan perusahaan penjualan pakaian, kok malah café? Nah loh.
Mungkin saking banyaknya yang dilamar, sehingga lupa menuliskan nama perusahaan yang benar, atau itu berkas lamaran yang tidak jadi ditujukan ke perusahaan tersebut, dan langsung comot kirim surat pekerjaan yang ada, tanpa memperhatikan nama perusahaannya. Nah kalau sudah seperti itu, hemm akhirnya Perusahaan merasa surat tersebut salah alamat, dan akhirnya disisihkan dari berkas yang diterima.

MENULISKAN JABATAN

Yang ketiga, tidak menuliskan jabatan atau posisi yang akan dilamar. Hal ini mungkin akan dimaklumi Perusahaan jika ia memang membuka lowongan untuk satu posisi saja. Namun jika lebih, maka akan terjadi kebingungan, pelamar ini mau melamar di posisi apa? Bahkan di depan amplop tidak tertulis posisi yang dilamar. Jadi, penting juga untuk menyertakan jabatan yang akan dilamar di surat lamaran.

TANDA TANGAN DI AKHIR SURAT

Lalu yang keempat, bagaimana dengan tanda tangan di surat lamaran, menurut saya itu penting tergantung permintaan Perusahaan. Ada beberapa perusahaan yang mewajibkan tanda tangan di surat lamaran beserta materai, ada juga yang tidak. Nah jika tidak, maka tidak perlu materai, cukup tanda tangan saja.

NOMOR TELEPON

Selanjutnya yang kelima adalah tidak menyertakan nomor telepon, atau ternyata nomor teleponnya tidak bisa dihubungi. Kalau pengalaman saya, saya hanya menelepon pelamar untuk interview maksimal sebanyak tiga kali. Jika tidak menerima telepon atau tidak aktif hingga tiga kali, maka akan saya skip. Ada juga yang setelah beberapa jam kemudian menelepon balik, dan akhirnya terpaksa saya jadikan interviewee cadangan karena kuota pelamar yang akan diinterview sudah mencapai batas maksimal. Ya begitulah, sayang sekali kan kesempatan hilang hanya karena itu?!

BUAT CV YANG SIMPEL DAN JELAS

Keenam, kita masuk ke pembahasan Curriculum Vitae, yang sering disingkat CV, atau daftar riwayat hidup. Nah CV ini sebaiknya dibuat semenarik dan sesimpel mungkin. Selain itu juga harus padat akan informasi diri yang benar-benar penting. Misalnya: data diri, riwayat pendidikan, lulusan mana, jurusan apa, nilai atau IPK-nya berapa, riwayat pekerjaannya apa saja. Nah untuk riwayat pekerjaan lebih bagus kalau disebutkan nama perusahaannya, masa kerjanya, dan deskripsi pekerjaan yang dilakukan seperti apa. Hal tersebut sangat membantu untuk jadi pertimbangan bagi Perusahaan.

BERKAS PENDUKUNG YANG PENTING

Kemudian, berkas pendukung yang penting dimasukkan tentunya fotokopi ijazah terakhir dan transkrip nilai (jika Perusahaan mengutamakan syarat pendidikan). Kemudian jika anda melamar pekerjaan yang membutuhkan fisik kuat atau yang mengharuskan mobile (berpindah tempat/dinas), maka sangat dianjurkan menyertakan surat keterangan sehat dari dokter. Ada juga perusahaan yang mewajibkan surat berkelakuan baik atau disebut SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisan), nah monggo sertakan SKCK yang masih berlaku yah, jangan yang sudah expired, hehe.
Selain itu jika memiliki pengalaman kerja, anda bisa melampirkan surat pengalaman kerja. Dari situ Perusahaan tahu seberapa lama pengalaman anda, mengapa anda berhenti bekerja, apakah diberhentikan atau habis masa kontrak atau mengundurkan diri. Hal ini biasanya akan diulas lebih dalam pada saat interview.

Yah, intinya selain surat lamaran dan CV, sertakan seluruh berkas pendukung yang penting-penting saja dan mendukung kualifikasi yang tertulis di lowongan pekerjaan tersebut. Oh iya tambahan sedikit, untuk foto, jika tidak diminta (tidak diwajibkan jumlah dan ukuran fotonya), maka silakan beri foto hanya satu lembar saja, tidak perlu banyak-banyak. Standar ukuran foto biasanya 4 x 6, supaya wajahnya bisa terlihat jelas, hehe.

MENGIRIM BERKAS LAMARAN

Nah, setelah berkas lamaran sudah siap, sekarang saatnya mengirim berkas tersebut. Jika mengirimkan berkas fisik ke alamat perusahaan. Penting untuk menuliskan nama perusahaan tujuan dan alamatnya, biasanya sertakan bagian yang dituju, misalnya: Up. HRD, Up. Roni Setiawan (Recruitment Officer), misalnya seperti itu. Jangan lupa juga menuliskan nama dan nomor telepon anda, serta posisi yang akan dilamar. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, penulisan posisi yang dituju/dilamar merupakan hal yang sangat penting. Jadi, amplopnya jangan hanya polos tanpa keterangan tujuan dan pengirim, ya.

Selanjutnya jika anda mengirimkan berkas ke email Perusahaan, maka jangan lupa menuliskan posisi yang akan dilamar di subject atau judul email. Nah poin pentingnya juga, sertakan kata pengantar di badan/isi email, lalu lampirkan berkas lamarannya. Pengantar di badan email sangat bermanfaat untuk menunjukkan kesopanan dan keseriusan anda dalam melamar pekerjaan. Jika anda hanya mengirimkan lampiran berkas (atau bahkan tidak menulis judul email), itu seolah-olah anda ‘melempar’ berkas lamaran sambil berkata pada Perusahaan: “Nih, berkas gue, dibaca ya!” kan kurang sopan kesannya. Jadi kata pengantar tersebut sebagai bentuk sapaan dan mohon izin mengirimkan berkas melalui email, ya begitulah kiranya, hehe.

JANGAN LUPA BERDOA

Nah jika sudah mengirimkan lamaran sebagai bentuk ikhtiar/usaha, sekarang saatnya tawakal kepada Tuhan. Jangan pernah putus berdoa agar Tuhan memudahkan jalan kita mencari nafkah yang halal, baik, dan berkah, serta mendapat lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan. Amiin.
Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari artikel ini. Saya sangat berharap semoga artikel ini menjawab pertanyaan teman-teman tentang alasan lamarannya yang tak kunjung direspon. Jika ada kata-kata saya yang salah mohon dimaafkan dan saya sangat mengharapkan koreksi dari anda.

Selamat pagi, jangan lupa tersenyum, dan salam sukses untuk kita semua J

Selasa, 25 Juli 2017

Bayangan Alberto

Aku berlawanan cahaya. Akulah sisi gelap Alberto. Melekat di dirinya walaupun sering kali samar. Aku bergerak layaknya Alberto. Aku mengetahui segala tentang Alberto. Entah melalui apa aku mendengar, melihat, dan merasa, aku tahu semua tentangnya.

“Aduuuuh,” keluh Alberto. Aku memegang perut mengikutinya. Sejak dua jam yang lalu Alberto merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya. Ia mengamuk, mengeluh kesakitan. Tinggal sendiri di sebuah gubuk yang hanya berisi satu tempat tidur dan bilik kamar kecil membuat Alberto semakin tak memahami dirinya. Pagi, siang, dan malam, ibunyalah yang memberinya makan. Ketika Alberto terlihat tenang, sesekali ibunya mengelus dan mencium keningnya. Namun, ketika  air muka Alberto berubah, ibunya segera mengunci pintu gubuk itu dari luar.

Sudah dua tahun Alberto hidup di sana. Hal itu bermula sejak ibunya tidak sanggup lagi menahan ketakutan pada Alberto yang menurutnya sangat aneh. “Aku takut dengan kegilaan anakku,” ungkap ibunya setiap ditanya alasan mengurung Alberto.

***

Alberto merupakan seorang anak berusia 12 tahun yang memiliki sifat sangat pendiam, rajin, dan patuh. Suatu ketika Alberto tiba-tiba berubah menjadi anak yang sangat feminin. Ia memakai pakaian ibunya dan berbicara layaknya wanita dewasa.
“Bu, aku mulai mencintai Diego tetangga kita. Aku sungguh terpesona padanya,” ucap Alberto lembut.
“Hei, apa-apaan kau ini? Sudah, jangan bertingkah aneh, pergi ke kamarmu. Ibu akan menyiapkan makan malam,” tutur ibu Alberto.
Ketika mengetahui hal itu, tak hanya ibu Alberto yang heran, aku pun begitu. Secara terpaksa aku bergerak gemulai dengan sangat feminin mengikuti Alberto. Aku merasa gerakanku tidak sesuai dengan jiwaku. Namun sepertinya Alberto tak menyadari hal itu. Aku berteriak pada Alberto, “Hei bodoh, kau Alberto! Kau anak kecil yang masih sekolah dasar!” Namun percuma, teriakanku tak terucap sedikitpun. Bagaikan bisikan hati, hanya aku sendiri yang mendengar.

“Hai, aku Eliza. Kau Diego, bukan?” Alberto memberanikan diri mengulurkan tangan pada Diego yang sedang membaca koran di depan rumahnya.
“Apa-apaan kau Alberto? Cepatlah pulang, ini sudah malam,” tolak Diego seraya masuk ke dalam rumah. Dengan penuh sakit hati, Alberto pun pulang ke rumahnya.
“Ibu, aku tidak ingin makan malam, aku ingin tidur!” sentak Alberto pada ibunya sambil menangis dan menutup pintu kamar dengan keras. Ibu Alberto pun mulai merasakan keanehan dan mengelus dadanya.

Jika ingin tidur, Alberto tak suka dengan lampu menyala. Ia mematikan lampu kamarnya. Tak ada cahaya, aku pun memudar.

Keesokan harinya, aku sangat senang karena Alberto sadar kembali. “You’re back!” teriakku. Alberto bergegas mandi dan sarapan. Ia mencium pipi ibunya dan berangkat ke sekolah.
Hmm, hal itu terjadi lagi. Namun sangat berbeda dari yang pertama. Kali ini aku dipaksa Alberto melakukan hal yang tidak biasa lagi. Alberto menantang genk yang terkenal kejam di sekolah untuk berkelahi.
“Kalian sudah sering menghajar anak-anak di sekolah ini. Temui aku di belakang sekolah setelah ini, dan akan ku beri tahu rasanya sakit!” tantang Alberto.
“Hahaha, apa yang kau katakan, cupu? Kau mengigau?” kata Ron sang ketua genk. “Jangan panggil aku John jika aku tak bisa mengalahkanmu!” teriak Alberto.
”John? Hahaha. Hei, jangan mengigau, Alberjohn!” ejek Ron disambut gelak tawa teman-temannya.
Aku semakin heran. Namun aku tak bisa menghentikan Alberto. Aku hanya bisa mengikuti gerakannya. Aku memang bisa mengetahui perilaku Alberto yang tidak bisa diketahui oleh orang lain. Namun, aku tidak bisa mengetahui isi hatinya, mengapa ia melakukan hal ini. Aku tak bisa berontak.

“Teeet…” Bel sekolah berbunyi. Segera aku dan Alberto ke belakang sekolah. Tak lama datanglah Ron dan genk-nya dengan muka yang sangat beringas. Pikiranku berkecamuk. Namun, gerakku nampak gagah. Alberto mulai menghampiri mereka.
“Apa yang kau inginkan, cupu Alberjohn?” ejek salah seorang anggota genk.
“Kau ingin luka? Atau kematian?” tantang Ron.
“Ya, aku ingin kematian. Namun bukan kematianku, tapi kematianmu!” balas Alberto misterius.
“Hiaaaaa...!!!” Alberto menyerang mereka satu per satu dan terjadilah perkelahian. Aku memukul sisi gelap para anggota genk tersebut. Aku merasa dikuatkan, entah oleh apa. Aku mulai bangga dengan keberanian Alberto.
Pukulan terakhir Alberto di atas perut dan di belakang leher Ron membuat Ron tersungkur. Teman-teman Ron yang terluka parah segera melarikan diri.
“Sudah ku bilang aku menginginkan kematianmu,” bisik Alberto pada Ron sesaat sebelum Ron kehilangan nyawanya.

Alberto pulang ke rumah mengenakan seragam yang kotor dan ada bercak darah. Ibunya ketika itu kebetulan tidak ada di rumah. Setelah membersihkan diri, seolah tak terjadi apa-apa, Alberto seperti biasa membaca buku di ruang tamu sambil memakan snack kesukaannya. Tak ada ciri-ciri kegelisahan di raut mukanya. Aku lagi-lagi merasa heran.

Alberto benar-benar mempermainkanku! Sore hari, ia berdandan dengan kosmetik ibunya dan menggoreskan tulisan “I love you, Diego” dengan lipstik di cermin rias ibunya. Setelah puas, kali ini Alberto ke kantor polisi dan melaporkan bahwa ia melihat beberapa siswa yang sedang berkelahi dan juga tejadi pembunuhan. Dengan menangis seolah-olah trauma, ia menceritakan kronologi kejadiannya dan menyebutkan salah satu siswa tersebut bernama Albertjohn.
“Aku melihatnya sendiri, Pak. Ada yang terbunuh di sana,” ucapnya tersedu-sedu.

Aku tahu, polisi tak akan langsung percaya dengan penyampaian Alberto. Bagaimana tidak, seorang anak laki-laki dengan wajah penuh riasan dan pakaian menyerupai perempuan datang malam-malam ke kantor polisi untuk menceritakan kasus pembunuhan. Wajah polisi itu tampak heran melihat Alberto.
“Siapa namamu dan berapa usiamu?” tanya polisi berkumis tebal itu.
“Aku Eliza, 21 tahun. Aku sangat takut melihat kejadian itu, Pak. Sangat takut!” jawabnya. Polisi tersebut mulai menenangkan Alberto, kemudian mengantarkannya pulang.

***

Ibu Alberto yang baru datang ternyata telah ditunggu di depan rumah oleh bu Reika, guru Alberto di sekolah. Ketika ibu Alberto mempersilakan bu Reika masuk, tiba-tiba Alberto datang. Ibunya sangat terkejut melihat Alberto bersama polisi. Alberto pun langsung berlari masuk ke kamarnya, sedangkan polisi yang berada di depan rumah disambut oleh ibu Alberto.

Alangkah terkejutnya ibu Alberto mendengar cerita polisi tersebut tentang pengaduan anaknya. Yang paling mengherankan adalah hal tersebut serupa dengan cerita yang kemudian disampaikan oleh bu Reika. Ia menyampaikan bahwa teman-teman Ron mengadukan pembunuhan yang dilakukan Alberto pada Ron. Jasad Ron pun ditemukan di belakang sekolah. Teman-teman Ron menyebutkan bahwa ketika itu Alberto mengaku dirinya sebagai John.

Ibu Alberto semakin tertekan. Di satu sisi, ia sadar bahwa anaknya mulai mengalami keanehan. Di sisi lain, ia tidak percaya bahwa anaknya sampai melakukan hal tersebut. Akhirnya, ia memanggil Alberto ke ruang tamu.
“Alberto, ibu ingin bicara denganmu!” panggil ibunya sedikit berteriak.
“Aku segera ke sana, Bu,” sahut Alberto dengan nada sopan. Alberto dan aku keluar kamar dengan gerakan tenang seperti Alberto biasanya.
“Ada apa, Bu?” tanya Alberto seraya duduk di samping ibunya. “Selamat malam, Bu Reika. Ada apa Ibu ke rumah saya?” sapa Alberto lembut. Ibu Alberto, bu guru Reika, dan polisi saling berpandangan heran.
“Hei nak, kau sudah rapi. Siapa namamu?” tanya polisi dengan spontan.
“Perkenalkan, aku Alberto. Ada keperluan apa Bapak kemari?” sahut Alberto sambil mengulurkan tangannya. Polisi itu pun menyambut jabat tangannya agar tidak terlihat bingung.
“Alberto, apa yang kau lakukan dari tadi pagi hingga malam?” tanya ibu Alberto serius.
“Aku? Sekolah tentu saja. Belajar seperti biasanya. Pulang dan membaca buku. Tadi aku sempat tertidur juga. Tak ada yang istimewa, Bu. Kau tentu tahu itu,” ucapnya santai.
“Ibu bertanya serius, Alberto! Jawab juga dengan serius!” bentak ibunya.

Alberto terkejut melihat muka ibunya yang nampak sangat marah. Aku pun terkejut. Namun aku lebih heran mengapa Alberto seolah-olah memang tidak menyadari perbuatannya hari ini. Aku serasa ingin mengungkapkan segalanya, namun aku hanyalah bayangan gelap yang juga tak mengerti sebab dari perilaku Alberto. Walaupun aku tidak ikut campur dengan keputusan perilaku Alberto, namun aku juga merasa bersalah karena telah membunuh Ron. Selain itu, aku sangat jijik pada perilaku Alberto ketika mengaku dirinya sebagai Eliza.

Alberto diam saja ketika dibentak ibunya. Namun tiba-tiba tatapannya berubah. Ia nampak gelisah melihat polisi.
“Ada apa Bapak kemari? Aku tidak salah. Aku membunuhnya demi kebaikan teman-temanku di sekolah yang telah banyak disakitinya,” ungkap Alberto yang sontak berdiri dan mengepal tangannya.
“Aku sangat membenci Ron! Ia pantas mati di tanganku! Aku telah menyelamatkan kebahagiaan teman-temanku!” jelasnya dengan gemetaran.
“Hei Alberto, kendalikan dirimu!” ucap ibunya sambil memegang tangannya.
“Aku John. Sudah berkali-kali aku bilang, aku John!” teriaknya sambil menghempas tangan ibunya.

Semua orang yang ada di tempat itu sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Alberto yang mencoba melarikan diri langsung ditembak oleh polisi di bagian kakinya. Ketika Alberto tersungkur, ia langsung diborgol oleh polisi yang kemudian menelepon anak buahnya agar segera membantu.
“Ibu Alberto dan Bu Guru harus ikut saya juga ke kantor polisi,” tegas polisi sambil membangunkan tubuh Alberto yang tergeletak lemas di lantai. Ibu Alberto langsung ke kamarnya untuk menaruh barang bawaannya dan tiba-tiba…
“Aaaaaaa…!!!” Ia berteriak histeris ketika melihat jasad Diego yang tergeletak di dekat meja riasnya dan tulisan “I love you, Diego” di cermin.
Bu guru Reika langsung mendatangi ibu Alberto dan ia pun langsung terkejut.
“Pak polisi!!! Segera panggil anak buahmu, di sini ada mayat!” teriak bu guru Reika.
“Ayo Bu, kita ke kantor polisi. Biarkan ini diurus oleh kepolisian,” tambahnya, mencoba menguatkan ibu Alberto.
Ibu Alberto pun menurutinya sambil menangis. Akhirnya, beberapa polisi datang dan langsung mengamankan TKP dan juga jasad Diego.

Sesampainya di kantor polisi, Alberto dirawat kakinya dan kemudian diproses hukum. Aku tahu Alberto juga tidak memahami dirinya. Ia tidak bersalah.

***

Ternyata keyakinanku benar.

“Alberto tidak bersalah. Berdasarkan hasil asesmen dan diagnosa yang saya lakukan selama kurang lebih empat minggu, Alberto dapat dikatakan mengalami gangguan kejiwaan berupa Gangguan Identitas Disosiatif, biasanya disebut Kepribadian Ganda,” ujar seorang psikolog yang menjadi saksi ahli pada persidangan Alberto. “Gangguan inilah yang membuat Alberto memiliki kepribadian yang terpecah dan seolah berganti-ganti. Mengenai penyebabnya, tentu perlu dilakukan asesmen dan intervensi yang lebih mendalam melalui beberapa pendekatan,” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Aku tahu, hal yang paling menyakitkan adalah kepribadian Alberto yang asli tidak ingat dan tidak kenal sama sekali dengan kepribadian Eliza dan John. Sehingga ia harus menanggung kebingungan atas seluruh proses penyembuhan yang dijalaninya.

Berkat kesaksian psikolog tersebut, Alberto dinyatakan tidak bersalah dengan alasan mengalami gangguan kejiwaan. Alberto dirawat selama satu tahun di institusi mental dan diisolasi dari lingkungan karena ia cenderung membahayakan. Semakin lama, ibunya semakin kesulitan membiayai perawatan Alberto. Kemudian, ibunya memutuskan untuk merawat anaknya sendiri di rumah.

Psikolog dan psikiater yang merawat Alberto telah melarang hal tersebut. Namun, keputusan tetap di tangan ibunya. Alberto dirawat di rumah dengan obat yang lebih murah dan kadang-kadang melakukan terapi. Tak kunjung sembuh, nampak kepribadian Alberto bertambah. Ia terkadang menangis seperti anak usia empat tahun dan terkadang suaranya menyerupai laki-laki lanjut usia. Karena ketakutan, terpaksa ibunya mengurung Alberto di sebuah gubuk tepat di samping rumahnya. Hanya sebuah tempat tidur dan bilik kamar kecil yang ada di dalam gubuk tersebut.


Alberto telah mengetahui gangguan yang dialaminya, namun entah mengapa semua terasa samar baginya. Ia pun bahkan tidak tahu kapan ia berperilaku sesuai kepribadian aslinya dan kapan ia berubah. Dan aku? Bagaimanapun juga aku tetap bersama Alberto. Aku tak pernah berpisah dengannya selama ada cahaya yang menyinarinya. Aku mengetahui dan menyadari segala perubahan Alberto dan tentu tak ada pilihan lain bagiku selain mengikutinya. Aku hanya bisa menemaninya dalam samar, tanpa bisa berucap, maupun menghiburnya.